Peran Nahwu dalam Menganalisis Teks Al-Quran

Posted: Mei 27, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

Setiap bahasa (language) pasti memiliki kaidah-kaidah tersendiri.. Hal tersebut juga kita temukan dalam bahasa arab yang diakui sebagai bahasa yang kaya akan kosakata. Selanjutnya tujuan dari bahasa adalah mengungkapkan tujuan sang pembicara (mutakaallim) melalui perantaraan suara yang keluar dari lisan sang mutakallim. Pada hakikatnya kata-kata terletak di dalam hati. Adapun lisan hanyalah sebagai dalil (petunjuk) ‘al-kalam an-nafsy’ yang terdapat dalam hati. Untuk itu tidak mudah mengungkapkan apa yang tersirat dalam hati (al-kalam an-nafsy), kecuali dengan kaidah-kaidah yang dapat menjaga dari kesalahan-kesalahan dalam penyampaian esensi maksud yang diharapkan mutakallim.

Para ahli bahasa telah berusaha keras untuk menyusun sejumlah kaidah-kaidah untuk dijadikan patokan bagi siapa saja yang akan menggunakan suatu bahasa. Bahasa arab sendiri memiliki banyak sekali kaidah-kaidah yang sudah disepakati oleh para ahli bahasa arab. Diantaranya adalah ilmu Nahwu (grammatika), shorof (morfologi), balaghoh (rethorika), isytiqaq (etimologi), dan sebagainya. Disini penulis akan mecoba mengkaji seputar bahasa arab beserta kaidah-kaidahnya, tapi yang ditekankan oleh penulis di sini adalah khusus mengenai ‘Nahwu’ sebagai salah satu kajian terpenting dalam bahasa arab. Karena Nahwu adalah tempat bergantung dan bersandarnya bahasa arab.

FAKTOR PELETAKAN ILMU NAHWU

Bahasa arab berkembang di tengah-tengah jazirah arab secara murni (orisinil) semenjak bahasa itu lahir. Bersih dan terjaga dari segala sesuatu yang dapat menjadikan ia cacat. Misalnya, dengan adanya asimilasi dari bahasa lain; seperti bahasa paris, rum, ataupun lainnya. Sehingga membuat bahasa arab kacau balau serta bercampur dengan bahasa-bahasa tersebut. Ada dua faktor yang melatar belakangi peletakan ilmu Nahwu yaitu:

PERTAMA: Faktor agama
Yaitu karena keinginan keras untuk mendatangkan teks Al-qur’an dalam bentuknya yang asli (fasih dan terjaga), Khususnya setelah munculnya berbagai kekeliruan dalam pengucapan bahasa arab. Kejadian ini sudah mucul semenjak nabi masih hidup. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa pernah ada seorang yang keliru bicara didepan rasulullah SAW, dia berkata “ ” أرشدوا أخاكم فإنه قد ضل. Dia berbicara dihadapan nabi SAW dengan menggunakan dlomir jamak pada lafadz “ارشدوا أخاكم” , padahal yang ia maksud adalah Nabi. Ya jelaslah salah dengan menggunakan dlomir ‘jamak’ untuk ‘mufrod’ (satu orang).

Itu salah satu contoh kekeliruan yang terjadi pada zaman ketika Nabi masih hidup, namun kekeliruan-kekeliruan seperti di atas masih terhitung sedikit sekali bahkan jarang. Kemudian seiring waktu berjalan kekeliruan-kekeliruan tersebut mulai melebar dan meluas, khususnya pada saat terjadi arabisasi suku-suku yang kalah dalam perang yang mana mereka sangat menjaga sekali kebiasaan-kebiasaan mereka yang bersifat lughowiyah. Artinya meskipun mereka diharuskan mengikuti dan menggunakan bahasa arab, mereka tidak bisa lepas dari dialek bahasa mereka sendiri. Nah, dari sinilah bahasa arab mulai bercampur dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa arab) sampai pada akhirnya bahasa arab mengalami kemerosotan yang sangat drastis, bahkan orang-orang yang diakui ahli dalam balaghoh dan khutbah juga ikut terkena virus-virus yang terdapat pada bahasa lain.

KEDUA: Faktor non agama
faktor non agama ini juga ada dua yaitu; pertama dari kaum arab sendiri dan yang kedua dari suku-suku lain yang berinteraksi dengan orang arab. Orang-orang arab sangat mengagung-agungkan bahasa mereka, sehingga mereka takut apabila bahasa yang mereka agung-agungkan itu musnah begitu saja. Hal itulah yang memicu semangat mereka untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa arab, karena takut bahasa mereka akan hilang dan larut dalam bahasa-bahasa lain. Yang kedua ini juga bisa disebut bawa’its ijtima’iyah (faktor masyarakat). Mereka (suku-suku yang berinteraksi dengan orang arab), merasa sangat mengharapkan sekali lahirnya kaidah-kaidah bahasa arab. Sehingga kaidah-kaidah tersebut bisa dijadikan contoh sekaligus pedoman bagi mereka.

Faktor-faktor inilah yang menyebabkan munculnya ilmu nahwu sebagai solusi dari berbagai macam problem seputar bahasa arab. Sampai pada akhirnya peran ilmu ini juga sangat membantu sekali dalam memahami teks-teks Al-qur’an. Meskipun ilmu nahwu saja, belum cukup untuk memahami Al-qur’an secara keseluruhan, tapi paling tidak ilmu ini menduduki posisi yang penting dalam menggali makna-makna Al-qur’an.

PERAN RIIL NAHWU DALAM MENGGALI MAKNA AL-QUR’AN
Terdapat banyak sekali dalam Al-qur’an ayat-ayat yang membutuhkan campur tangan Nahwu didalamnya, seperti pada ayat “إذا أراد شيأ أن يقول له كن فيكون” kita dapatkan disana arti dari lafadz “كن فيكون” . Apabila kalimat ini kita terjemahkan secara sederhana, “Jadi! Maka jadilah,…; langsung terbayang dalam benak kita bahwa ketika Allah Swt menghendaki sesuatu dan lalu mengatakan “Jadilah! ; maka sesuatu itu dengan serta merta terjadi langsung.

Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak tepat apabila kita melihatnya dari sudut yang lebih umum dan hal-hal yang berkaitan dengan sunnatullah. Bahkan makna sepintas itu menggambarkan tidak adanya proses. Padahal ayat itu berada dalam kontek umum dan mencakup semua kejadian termasuk yang ada proses padanya. Itulah rahasia yang terkandung dengan menggunakan “ف” sebagai jawab syarat, bukan dengan kata “يكن” dengan dijadikan berstatus Jazm. Sedangkan relasi antara syarat yakni kata Kun dan jawab syarat yakni “فيكون” mengandung makna kepastian.

kedua, baru-baru saja saya temukan, yaitu sebuah makalah yang ditulis di situs swaramuslim. Makalah tersebut berbicara tentang jimat dan hal-hal yang berbau klenik dan bagaimana hukumnya menurut pandangan Islam. Ada satu hadis Nabi s.a.w. yang berbunyi, “من تعلق تمامة فلا أتمه الله” Kalimat hadis ini diterjemahkan oleh penulisnya dengan “Barangsiapa menggantungkan jimat, maka semoga tidak disempurnakan oleh Allah (hajatnya).…; Secara sederhana, kita memang bisa mengerti makna hadis ini dan apa kandungan yang dimaksud. Namun saya mencoba memberikan perbandingan dengan terjemahan yang mencermati kaidah ilmu Sharaf, yaitu dasar kita memahami dalam level ini.

Hadis tersebut menggunakan kata ta’allaqa’ yang mengandung beberapa makna selain kata dasarnya. Beberapa makna yang relevan adalah ; مطاوعة, دلا لةعلي اتخاذ
معانة, والتكلف Makna-makna ini menunjukkan kandungan intransitif. Bisa dilihat terjemahan di atas menggunakan makna transitif yang sebenarnya lebih tepat jika digukana kata ;allaqa. Satu makna yang sedikit mengena dengan terjemahan tersebut adalah makna دلا لةعلي اتخاذ; yakni makna menjadikan sesuatu yang terkandung dalam kata dasar. Misalnya kata وسادة adalah bantal, maka tawassada-hu berarti menjadikan sesuatu itu sebagai bantal, atau kata ibnun adalah anak, maka تيني adalah menjadikannya sebagai anak. Jika hadis di atas kita terjemahkan sesuai dengan makna ini, maka secara literal adalah “Barangsiapa menjadikan jimat sebagai gantungan.

Bisa kita lihat sendiri, terjemahan tersebut hanya mengena pada sedikit dari kandungan yang dimaksud. Makna lain yang menurut saya lebih tepat adalah مطاوعة yakni jika kita menggantungkan sesuatu, maka sesuatu itu tergantung. Dengan makna ini, hadis di atas tidak sekadar menggantungkan jimat, tetapi siapa saja yang bergantung dengan jimat walau jimat itu sendiri hanya disimpan. Seharusnya kata ta’allaqa dalam hadis itu intransitif, tetapi digunakan secara transitif karena rahasia bahasa tertentu yang menjadi pembahasan level selanjutnya, yaitu level gramatikal.

Maksud hadis itu menjadi lebih tegas, bukan jimatnya yang tergantung, tetapi adalah oknum yang tergantung dengan jimat. Dan karena oknum, maka makna menjadi bergantung. Dan karena makna ketergantungan inilah, maka hal itu dilarang karena bagi seorang muslim, prilaku yang benar adalah berusaha dan menyerahkan semuanya yakni bergantung kepada Allah, bukan kepada benda-benda dengan membuatnya sebagai jimat-jimat.

PENUTUP
Tidak bisa kita pungkiri bahwa Ilmu Nahwu telah memberikan sumbang yang sangat besar kepada islam, khususnya dalam menyingkapkan makna-makna yang terkandung dalam rangkaian kata penuh makna yaitu Al-qur’an, hadist, dan teks-teks arab lainnya. Kalau setiap hari kita memabaca Al-qur’an, membaca buku-buku yang berbaha-sa arab, mendengarkan pengajian di TV, atau apa saja lah yang menggunakan bahasa arab kita akan membutuhkan apa yang disebut dengan Ilmu Nahwu. Orang yang sadar akan kebutuhan hidupnya, maka ia akan berupaya untuk mendapatkannya.

Tapi, tujuan yang paling utama dalam kita mempelajari Ilmu Nahwu ini adalah untuk berupaya memahami makna-makna yang terkandung dalam teks-teks Al-qur’an dan Hadis. Di atas sudah kita ketahui betapa erat sekali hubungan antara teks Al-qur’an dan bahasa arab, kemudian sejarah peletakan Ilmu Nahwu sampai pada Nahwu sebagai solusi untuk memahami Al-qur’an.

Komentar
  1. k4ncingb4ju mengatakan:

    ayo belajarono nahwu…..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s