Konsep Ketuhanan dalam Al-Quran (Tafsir Surat al-Ikhlash)

Posted: Mei 10, 2011 in Uncategorized

قل هو الله أحد (1) الله الصمد (2) لم يلد ولم يولد (3) ولم يكن له كفوا أحد (4)

(1) Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, yang Maha Esa

 (2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

(3) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

(4) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia’.

ِِA.       Sebab Tutunnya Surah

Mayoritas ulama mengatakan bahwa surah ini adalah Makkiyyah. Ia turun sebagai jawaban atas pertanyaan sementara kaum musyrikin yang ingin mengetahui bagaimana Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad saw. Ini karena mereka menyangka bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu serupa dengan berhala-berhala mereka.

Riwayat lain, seperti yang ditulis M. Quraish Shihab, menyatakan bahwa surah ini turun di Madinah, berkenaan dengan pertanyaan orang-orang Yahudi di Madinah atau dalam riwayat lain berkenaan dengan datangnya Amir Ibn Thufail dan Arbad Ibn Rabi’ah yang bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang ajakan beliau. Ketika itu mereka meminta beliau melukiskan Allah apakah terbuat dari emas atau perak atau kayu.[1]

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, yang pasti surah ini diturunkan untuk menjawab pertanyaan tentang Tuhan yang disembah oleh Rasulullah saw. Bagaimana sifatnya, apa nisbahnya, apakah terbuat dari emas atau perak. Demikian beberapa pertanyaan menurut aneka riwayat itu. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka turunlah ayat-ayat surah ini.

B.      Tafsiran Surah

Pada ayat pertama Allah berfirman :

قل هو الله أحد

Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, yang Maha Esa

Tujuan utama kehadiran al-Quran adalah memperkenalkan Allah dan mengajak manusia untuk mengesakan-Nya serta patuh kepada-Nya. Surah ini memperkenalkan Allah dengan memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan sekaligus menjawab pertanyaan dengan perintah ‘qul’.

Kata Huwa bisa diterjemahkan Dia. Kata ini munurut Mutawalli, seperti yang dinukil Quraish Shihab, menunjukkan suatu yang tidak hadir di depan kita, dengan kata lain ghaib. Kata Huwa di sini menunjukkan Allah yang gaib itu. Dia gaib karena Dia cahaya. Dengan cahaya, kita melihat sesuatu, tetapi dia sendiri tidak dapat dilihat sampai ada cahaya yang melebihinya agar dia dapat terlihat. Begitu juga dengan gaibnya Allah, karena tidak ada yang melebihi-Nya maka wajar jika kita tidak melihat-Nya. Memang, seandainya Dia terlihat, hakikat-Nya diketahui dan dengan demikian Dia terjangkau, dan jika Dia terjangkau maka Dia tidak pantas lagi dipertuhankan.[2]

Kata Allah adalah nama bagi Wujud Mutlak, Yang berhak disembah, Pencipta, Pemelihara dan Pengatur seluruh jagat raya. Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa yang disembah dan diikuti segala perintah-Nya.

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibn Katsir berpendapat bahwa Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, tidak membutuhkan bantuan, tidak ada yang menyamai dan menandingi-Nya karena Dia Maha Sempurna dalam semua sifat-Nya dan pekerjaan-Nya[3]. Wahbah Zuhayli dalam menafsirkan ayat ini berpendapat bahwa Allah Maha Esa, tidak tersusun dari materi dan immateri, kata Ahad merupakan sifat ketuhanan Allah dan menafikan (menghilangkan) kemungkinan Dia mempunyai sekutu.[4]

Kata Ahad berarti esa. Allah Yang Maha Esa, keesaan-Nya mencakupi keesaan zat, keesaan sifat, keesan perbuatan serta keesaan. Keesaan zat mengandung pengertian bahwa seorang harus percaya bahwa Allah tidak terdiri dari unsur-unsur atau bagian-bagian. Keesaan sifat mengandung pengertian bahwa Allah mempunyai sifat yang tidak sama dalam subtansi dan kapasitas-Nya dengan sifat-sifatyang dimiliki mahkluk, walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan menunjukkan sifat tersebut sama. Keesaan perbuatan berarti segala yang sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem kerjanya maupun sebab dan wujudnya adalah hasil perbuatan Allah.[5]

Allah berfirman pada ayat kedua :

الله الصمد

Allah adalah tumpuan harapan.

Kata ash-Shamad mempunyai makna sesuatu yang dituju dalam memenuhi hajat. Sebagaimana yang ditafsirkan Wahbah Zuhayli, Allah Maha Kuasa dalam mewujudkan hajat tersebut, artinya Allah-lah yang dituju setiap makhluk, Dia-lah yang dibutuhkan makhluk karena Dia Maha Kaya. Ayat ini membatalkan keyakinan orang-orang musyrik Arab yang menganggap adanya juru selamat selain Allah.[6]

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibn Abbas menyatakan bahwa ash-Shamad berarti “tokoh yang telah sempurna ketokohan-Nya, mulia dan mencapai puncak kemuliaan, yang agung dan mencapai puncak keagungan-Nya, yang penyantun dan tiada yang melebihi santunan-Nya, yang mengetahui lagi sempurna pengetahuan-Nya, yang bijaksana dan tiada celah dalam kebijaksanaan-Nya”.[7]

Setelah ayat pertama menjelaskan zat, sifat dan perbuatan Allah Yang Maha Esa, ayat di atas menjelaskan bahwa seluruh mekhluk membutuhkan-Nya, yakni Allah yang menjadi tumpuan harapan yang dituju oleh semua makhluk guna memenuhi segala kebutuhan, permintaan mereka dan ketergantungan mereka kepada-Nya. Memang makhluk dapat menjadi tumpuan harapan, tapi harus disadari bahwa makhluk tersebut juga membutuhkan tumpuan harapan yang dapat menanggulangi kesulitannya. Ini berarti makhluk yang menjadi tumpuan harapan tidaklah mutlak, hanya Allah yang mutlak sebagai tumpuan harapan.

Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan bahwa semua makhluk bergantung kepada-Nya, ayat ketiga turun yang menerangkan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan :

لم يلد ولم يولد

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Dia tidak menciptakan anak dan juga tidak dilahirkan dari bapak atau ibu. Tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya. Beranak atau diperanakkan berarti menjadikan adanya sesuatu yang keluar dari-Nya, ini menyebabkan terbaginya zan Tuhan, yang bertentangan dengan arti Ahad yang telah dijelaskan di atas.

Di sisi lain, anak dan ayah merupakan jenis yang sama, sedangkan Allah tiada sesuatu pun yang seperti-Nya, baik dalam benak maupun dalam kenyataan, sehingga pasti Dia tidak mungkin melahirkan atau dilahirkan. Lagi pula anak dibutuhkan oleh makhluk berakal untuk melanjutkan eksistensinya atau untuk membantunya, sedang Tuhan kekal selamap-lamanya dan tidak memerlukan bantuan.

Ayat di atas menafikan segala macam kepercayaan menyangkut adanya anak atau ayah bagi Allah, baik yang dianut oleh kaum musyrikin, orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi atau filosof, baik anak itu berbentuk manusia atau tidak.

Dalam Tafsir al-Khozin dijelaskan bahwa ayat ini menolak anggapan orang-orang musyrik Arab bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Begitu juga dengan anggapan orang-orang Yahudi yang menyatakan bahwa Uzair adalah anak Allah, sedangkan orang-orang Nasrani menganggap Isa adalah anak Allah. Dengan ayat ini, anggapan-anggapan para kafir tersebut telah terbantahkan, karena Tuhan Maha Esa dan tidak mungkin zat-Nya terbagi berbentuk anak.[8]

Setelah menjelaskan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, pada ayat terakhir Allah berfirman :

ولم يكن له كفوا أحد

Dan tiada satu pun yang setara dengan-Nya.

Ayat di atas sekali lagi menafikan segala sesuatu yang menyamai-Nya, baik sebagai anak atau bapak atau selainnya. Kata kufuwan berarti sama. Ada sebagian ulama yang memahami kata ini dalam arti istri, tetapi pendapat ini tidak didukung oleh banyak ulama walau memang Allah tidak memiliki istri. Banyak ulama memahami ayat di atas sebagai menafikan adanya sesuatu apapun yang serupa dengan-Nya, seperti yang dikemukakan Wahbah Zuhayli: “tiada satupun yang menyamai-Nya dan bersekutu dengan-Nya. Ayat ini menafikan adanya istri bagi Allah dan membatalkan keyakinan orang-orang musyrik bahwa Allah mempunyai Nidd dalam pekejaan-Nya sehingga mereka mengganggap para malaikat sebagai sekutu Allah dan berhala-berhala menjadi Nidd bagi-Nya”.[9]

Demikian surah al-Ikhlash menetapkan keesaan Allah secara murni dan menafikan segala kemusyrikan terhadap-Nya. Sehingga Rasulullah menilai surah ini sebagai Sepertiga al-Quran, dalam arti makna yang terkandungnya memuat puncak akidah yang menjadi salah satu dari ajaran pokok al-Quran yang mengangung akidah, syariat dan akhlak. Wa Allah A’lam.


[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Jakarta : Lentera Hati, 2009), vol 15 hal 711

[2] Ibid, hal 714-715

[3] Abu al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1991), juz 3 hal 691

[4] Wahbah Zuhayli, At-Tafsir Al-Munir (Beirut : Dar al-Fikr, 2005), juz 15 hal 868

[5]M. Quraish Shihab, op. cit, hal 717-718

[6] Wahbah Zuhayli, op. cit

[7] Abu al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir, op. cit

[8] Ali bin Muhammad al-Khazin, Tafsir al-Khazin (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1995), juz 6 hal 534

[9] Wahbah Zuhayli, op. cit, hal 869

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s